Jumat, 08 November 2013

ke toba, liburan dadakan

Dan...
Kami memutuskan untuk jalan darat keliling sumatera utara.
Melalui lebih dari 10 kabupaten dan total lebih dari 1000 kilometer perjalanan.

Persiapan
Ijin ke kantor diapprove H-2 per telepon.
Konfirmasi Hotel beres H-1.
GPS mengandalkan google map bawaan handphone (yang kemudian ternyata nggak bisa jalan) dan peta manual nge print H-1.

Hari Pertama
Gara gara begadang ngeprint peta dan tugas tugas, kami kesiangan berangkat. Waktu telah menunjukkan pukul 6:30 WIB saat meninggalkan Duri. Rencananya kami berangkat subuh dikarenakan jalan yang harus ditempuh antara 12-14 jam. Perjalanan panjang pun dimulai.

Dari Duri mengambil jalur ke arah Kota Dumai dan sesampainya di Simpang Bangko mengambil arah kiri menuju Bangko. Jalur yang dilewati bergelombang dan terdapat satu titik buka tutup bergantian dikarenakan jalan yang sedang dibeton. Memasuki rokan hilir kami memutuskan untuk sarapan. Bekal telah disiapkan untuk sarapan ini. dikarenakan bingung mencari tempat sarapan yang nyaman, saya memutuskan untuk berhenti di Bangko Camp (salah satu area remote PT CPI). Sarapan di tempat umum dengan modal pede yang penting nyaman :) ... sepertinya banyak perubahan di camp ini dari saat terakhir saya kesini.

Perjalanan pun dilanjutkan. Ratusan/ribuan hektar kebun sawit di kiri dan kanan akan mewarnai perjalanan anda dari provinsi Riau hingga ke Sumatera Utara ini.

Aek Kanopan, Rantau Prapat, Kota Pinang dilewati dengan lancar. Jalannya mulus. Kota kota ini adalah ibukota kabupaten labuhan batu yang telah dimekarkan menjadi labuhan batu selatan, labuhan batu dan labuhan batu utara. Kota kotanya berkembang dan ramai ruko di sisi kanan kiri jalan utama. Kamipun makan siang di Kota Pinang ini. Waktu menunjukkan pukul 12:30 saat itu.

Setelah makan siang dan istirahat sebentar, perjalanan pun dilanjutkan. Pemandangan belum banyak berubah, hutan sawit di kanan kiri jalan utama. Jalur yang dilewati relatif mulus sehingga kendaraan dapat dipacu hingga diatas 70 km/jam. Kota yang kami tuju adalah Kabupaten Batubara dimana kecamatan Lima Puluh menjadi pusatnya. sekitar pukul 18:30 kami sampai di Lima Puluh. Hari telah mulai gelap. tapi kami belum akan berhenti. Jalur lurus menuju Medan. Sedang kami mengambil belokan ke kiri. Kami akan menginap di Pematang Siantar.

5 Kilometer dari sejak kami berbelok kiri dari Lima Puluh, jalur menjadi lebih kecil tetapi tetap aspal yang bagus. Satu kali kami harus antri bergantian menaiki jembatan kayu yang agak bikin keder karena mobil kami memiliki ground clearance yang tidak terlalu tinggi.

Setelah itu jalur agak buruk karena di sisi kanan jalan longsor sehingga kendaraan dari arah depan berusaha mengambil jalur jalan dan kami memilih untuk mengalah demi keselamatan. "seng waras ngalah" kata orang jawa.

Sekitar 55 kilometer kemudian, sampailah kami di Pematang Siantar. Waktu menunjukkan pukul 19:30. Perut mulai protes untuk segera diisi. Setelah berputar putar sebentar kami memutuskan untuk menginap di Hotel Grand Mega. Dan karena kondisi yang lelah 12 jam lebih di kendaraan, kami memesan makanan hotel ini juga. Tidak lama setelah menyantap makan malam, kami semua segera terlelap.

Hari Kedua
Pagi hari kami telah bersiap. Sarapan dan kemudian check out dari Hotel. kami mengambil jalur ke arah Parapat, kecamatan yang berada di pinggiran danau Toba. Sebelum keluar meninggalkan kota pematang siantar, kita sempatkan putar putar sebentar melihat lihat kota ini. Kota Pematang Siantar lumayan besar. Jalan yang lebar dan bangunan yang besar menandakan kota ini lumayan maju. Mungkin karena menjadi kota transit sebelum Toba sehingga banyak ditemui hotel dan penginapan disini.

Menyusuri jalan utama, kami menuju Parapat. Tak lupa membawa bekal makanan kecil dan minuman. Semangat untuk segera melihat danau Toba yang terkenal membuat perjalanan tak terasa. Parapat memang sudah dekat dari Pematang Siantar. Hanya saja jalurnya yang naik turun gunung sehingga kita tidak bisa memacu kendaraan terlalu kencang.

Kami tiba di Toba sekitar pukul 9:00 pagi. suasana belum terlalu ramai. dan kami bisa melihat luas nya danau toba dengan pulau samosir di tengah tengahnya. Memasuki Parapat, kendaraan saya arahkan ke pantai umum. restribusi 20 ribu ditarik untuk tiap mobil di jalur masuk. dan setelah menghadapi jalur yang padat karena telah banyak bis bis pariwisata yang memasuki jalur yang sama, akhirnya kami tiba di pinggir danau Toba.

Danau Toba sangat luas dengan pinggiran danau berupa tebing curam. Di bagian tepian tebing dibuat undak undakan bagi kita untuk kebawah danau dan menikmati wisata danau antara lain mengelilingi danau menggunakan perahu kayuh/boat dengan mesin.

Bagi yang ingin menyeberang ke Pulau Samosir, dapat menggunakan pilihan dari pelabuhan rakyat tiga raja yang kapalnya telah terjadwal berangkatnya. Kami memilih melihat lihat danau Toba dari pinggiran saja dan tidak menyeberang ke pulau samosir dengan pertimbangan perjalanan berikutnya yang telah menanti.

Setelah puas menikmati Danau Toba, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kota selanjutnya yang tak kalah terkenalnya, Brastagi. Kami meninggalkan Toba sekitar pukul 10:30 Siang.

Kendaraan saya arahkan untuk keluar dari Parapat menggunakan jalur yang sama dengan waktu keberangkatan. tetapi sekitar 10 kilometer dari Parapat, di simpang yang tidak terlalu kentara, saya mengambil jalur ke kiri. Kami akan ke Brastagi tidak melalui Medan, melainkan melalui jalur Parapat-Tiga Runggu-Merek-Kabanjahe-Brastagi yang jalurnya ada di sepanjang pinggiran danau Toba ini. Inilah yang mendasari keputusan untuk tidak terlalu lama di Toba karena bila hari telah gelap, akan berbahaya mengambil jalur ini karena jalannya relatif sempit dan melalui banyak hutan belantara.

Jalur Parapat - Tiga Runggu melalui desa desa yang berada di pinggiran danau toba. Banyak spot bagus yang dimana danau toba terlihat sangat indah dari atas. di kanan kiri jalan terdapat banyak kebun kebun rakyat diselingi hutan belantara. Di beberapa titik jalur tersebut tikungan tajam dan menanjak akan ditemui sehingga kita harus waspada.

Pukul 13:00 kami berhenti untuk makan siang di Tiga Runggu, sebuah desa/kecamatan kecil yang menjadi persimpangan jalur Pematang Siantar - Merek. Bagi pemeluk agama Islam, mendapatkan tempat makan yang halal di pelosok sumatera utara memang relatif agak sulit dibanding di kota kotanya. Beruntung kami menemukan salah satunya. Peruntungan kami ditambah dengan adanya satu toko yang menjual ulos dan kain kain tenun khas sumatera utara.

Dan perjalanan pun dilanjutkan dengan mengambil jalur ke kiri (arah merek - kabanjahe). Hutan belantara dan desa desa kecil dilewati dengan beberapa simpangan kecil. Di semua desa/kecamatan yang dilewati, kedai yang menjual babi panggang bertebaran :) ... Setelah sekitar 2 jam lebih kami tiba di Kabanjahe. Disini jalur mulai naik dan kami melewati banyak kebun bunga dan kebun buah yang menjadi industri utama daerah ini. Kabanjahe memang terkenal dengan Agrowisatanya.

Kami terlewat satu obyek wisata di daerah Merek yaitu air terjun sipiso piso. Sayang sekali padahal dari Merek lokasinya sudah cukup dekat.

Dari Kabanjahe, tidak terlalu lama kami telah masuk Brastagi. kota yang relatif ramai karena terkenal akan dingin dan obyek wisatanya. Kami menginap di hotel Horison yang berada di pinggiran Brastagi arah Medan. Di depan hotel Horison terdapat taman Kubu yang menjadi bagian dari hotel Kubu dan di taman ini pengunjung dapat menikmati keindahan taman yang luas dan bermain layang layang. Malam hari kami menikmati makanan di sekitar brastagi dan beristirahat untuk rencana keesokan harinya.

Hari Ketiga
Pagi hari kami bangun dengan kedinginan :)
Setelah sarapan kami menuju ke taman Gundaling. Taman ini hanya 10 menit dari jalan utama Brastagi dan memiliki ketinggian yang memungkinkan kita untuk melihat keseluruhan kota Brastagi dari atas. Restribusi per kepala 4000 plus parkir 5000 untuk dapat memasuki taman ini. Dari atas taman terlihat pemandangan yang indah dan gunung sinabung di kejauhan. Disini juga terdapat wisata berkeliling naik delman dan kuda dengan berbagai tarif. Setelah puas kami menuju tempat selanjutnya. Masih di sekitar Brastagi, hanya sekitar 10 menit menuju Medan, taman Lumbini.

Dari Brastagi kami mengambil jalur ke arah Medan. tidak sampai 10 menit terdapat sebuah tugu yang di atasnya ada beberapa buah jeruk kuning. Orang lokal menyebutnya tugu jeruk. Dari simpang tugu jeruk kami mengambil arah ke kanan keluar dari jalan utama. Tidak sampai 800 meter dari simpang tadi di sebelah kanan telah terlihat ujung pagoda dari taman lumbini ini. Jalan masuk ke lokasi tidak terlalu jelas dan tersamar diantara bangunan bangunan disana. tapi berdasar ujung pagoda tersebut jalan masuknya dapat ditebak.
Jalan masuk yang berupa tanah kerikil. belum diaspal :)

Pagoda ini cukup luas. sebagian besar bangunan terbuat dari marmer. Saat memasuki areal, kita tidak akan dipungut biaya sepeser pun. Cukup menulis identitas kita, dan dituntut kepatuhan kita untuk menghormati tempat ibadah ini. Berikut beberapa aturan nya disana :

  1. Memasuki areal pagoda tidak boleh menggunakan alas kaki. tidak perlu takut panas. lantai marmer membuat panas matahari tidak terasa.
  2. Tidak boleh menggunakan kamera yang menggunakan flash
  3. Tidak boleh berisik / ramai


Puas berkeliling keliling pagoda, kami memutuskan untuk ke Medan. Rencananya mau mencari beberapa target kuliner yang ada di Medan. Dan kendaraan kami pacu menuju medan.

Sekitar pukul 14:30 kami memasuki kota medan. Dan langsung berkenalan dengan suasana kotanya.
kota ini cukup luas. Dan di sore hari ternyata macet nya merata di sana sini. Ditambah peta yang saya print ternyata tidak sesuai dengan jalan yang ada, jadilah kami harus berputar putar mencari jalan tempat hotel penginapan kami berada.
Dan setelah sekitar 1 jam berputar putar akhirnya kami ketemu juga dengan Hotel Madani.

Setelah cek in dan membersihkan badan, kami bermaksud untuk keliling kota mencari oleh oleh sekaligus wisata kuliner. bolu meranti ternyata ada cabangnya di jalan dekat hotel, sehingga tidak perlu mencari toko aslinya.
merdeka walk ditemui setelah bertanya tanya. tidak lama disana.
dan malam itu gambaran yang didapat dari kota medan adalah kota yang besar, jalannya lumayan lebar lebar. banyak yang satu arah. sayang kendaraannya banyak yang nyerobot lampu merah :)

Hari Keempat
pagi di hari keempat kami memiliki pilihan untuk persiapan pulang.
1. pulang agak siang dan menginap di rantau prapat (pertengahan Medan - Duri)
2. pulang pagi dan langsung sampai duri. lebih capek. tapi ya lebih cepet sampai.
dan karena bolu meranti ternyata baru buka jam 10, kami putar putar dahulu mencari

Jalan Majapahit untuk mencari oleh oleh lainnya, pancake durian....
Setelah muter2 sebentar... ketemu juga akhirnya... jalan majapahit agak nyempil lokasinya.
Dan setelah lanjut membeli bolu meranti, perjalanan pulang dimulai.
Waktu menunjukkan pukul 11:30 siang saat kami meninggalkan medan.
Dari 2 opsi di atas.... saya mengambil opsi nomer 3
--> Kami pulang siang dan langsung geber sampai duri

perjalanan tidak terlalu berbeda dengan jalur berangkat.
di kanan kiri jalan masih dipenuhi hutan sawit
dan memasuki rantau prapat waktu telah menunjukkan 21:30.
kami makan malam disana.
sambil menguatkan hati
karena masih sekitar 7 jam lagi baru kami sampai di Duri.
dengan membaca Bismillah..
Perjalanan pun dilanjutkan.
Menyetir di waktu malam sebenarnya lebih enak karena saat ada mobil dari depan maka cahayanya akan terlihat. tetapi tetap lebih beresiko karena beberapa kali saya ketemu dengan kendaraan yang tidak menyalakan lampunya :)

dan....
perjalanan kami ditutup dengan sampai di duri sekitar pukul 3:30 pagi...
lengan terasa capek...
mata terasa berat...
dan kami pun langsung tertidur pulas...

Jalurnya, PP lebih dari 1000 km jeh...

Danau Toba tampak atas

Taman Gundaling, anak anak nggak ada yang mau foto

Masih di taman gundaling, tuh kan mrengut almernya

taman lumbini

mencari peruntungan

tempat sembahyangnya

Jumat, 26 Juli 2013

My Trip (2)

ini lanjutan dari tulisan mytrip(1) yang cerita tentang perjalananku ke offshore kalimantan....
...
Dan esok paginya saya bersiap dengan team di terminal bus untuk menuju Santan. Kenapa harus ke santan ? karena dari santan lah kapal yang akan membawa saya ke tengah laut berangkat.
Perjalanan dengan bus dari BPN-STN ditempuh selama 5-6 jam. Selama itukah ? iya benar harus selama itu... biar nggak bingung di bawah ini lokasi yang namanya Santan (masuk kabupaten kutai kartanegara) :


Bus sempat berhenti di Samarinda untuk istirahat makan siang... kami berhenti di salah satu mall dan ada waktu sekitar setengah jam untuk makan dan meregangkan badan.

Para penumpangpun langsung menghambur ke dalam mall. sebagian besar untuk makan siang. sebagian kecil untuk cuci mata dan berbelanja.

dan setelah itu perjalanan panjang berlanjut lagi.

Perjalanan melewati sungai Mahakam yang super lebar itu...
tampak dikejauhan begitu banyaknya kapal pengangkut batubara yang menggunung. kapal yang begitu banyak menggambarkan betapa kayanya negeri ini. potensi alam yang sangat menakjubkan.



Bus sampai di santan sekitar jam 3 sore. kondisi fisik mulai terkuras karena duduk melulu di dalam bus. dan kami lanjutkan dengan mendaftar kapal. Kami akan menginap di tengah laut malam ini.

Kapal kami berangkat jam 19:00 dan tiba di Ataka Platform sekitar jam 21:00.
Lemes dan puyeng digoyang ombak ditambah hidung yang masih mbeler karena sehari sebelumnya dicelup air membuat malamnya aku langsung tepar... sebelum tepar... aku potret dulu kamarnya... kamar ini kecil.. dan dihuni 4 orang... kondisi kamar diterima dengan niat ibadah dan harapan semoga pekerjaan saya tidak sia sia :)


Dan keesokan harinya saat matahari belum terbit... aktifitasku telah dimulai...
berangkat dengan boat ke platform lain... bekerja... dan kembali lagi ke Ataka untuk menginap...
berulang ulang...

 turun dari boat dengan melompat menggunakan swing rope

 ketemu dengan penguasa platform kalimantan

 matahari terbit

 Komputer komputer yang perlu disentuh
wajahnya sekusut life vest nya

Dan selama seminggu lebih di atas laut... salah satu yang aku simpulkan...
cari minyak itu sulit Mas... jadi kalo BBM naik jangan asal demo dulu yaa...
dipahami dulu alasan penentuan harga dan masalah bangsa ini...
:)
#sokbijak

My Trip (1)

Saya mendapat kesempatan untuk kembali mendatangi offshore platform di laut kalimantan. Persiapanpun dilakukan untuk keperluan selama ditengah laut. Termasuk juga menyiapkan baju monyet dengan ukuran besar sesuai porsi badanku.

Perjalanan dimulai dengan Bus dari DRI-PKU berangkat jam 7:00 (jam 4:30 saya telah selesai mandi dan duduk manis menunggu jemputan). tiba di terminal rumbai jam 11:00 dan langsung diantar menuju air port sultan syarif kasim II
Flight dari PKU-JKT jam 14:00 dan tiba di jkt jam 16:00
dilanjut dengan fligth dari JKT-BPN jam 21:30 dan tiba di BPN jam 23:00 WITA
tiba di hotel jam telah menunjukkan waktu 00:30 dan saya langsung tergeletak lemas....

Jam 07:30 saya telah bersiap untuk mengikuti training sea survival... ini adalah salah satu syarat untuk jalan jalan ke platform...
materi training cukup menarik dan prakteknya,,, sungguh membuat hidungku terus berair hingga 3 hari ke depan....

 1. Senam dulu .... tu wa ga pat...

 2. latihan lompat kalo platform kebakaran

 3. renang berantai selamatkan teman

 4. formasi sambil nunggu bantuan

5. ini apa namanya ya ? lupa...

 6. yang jelas untuk tempat nunggu bantuan lah... 

 7. simulasi helicopter jatuh..

8. digulingin dan hitung sampai 5 sebelum menyelamatkan diri

Sore hari training selesai dan saya mendapatkan kartu tanda telah mengikuti training ini... siap untuk menuju laut...
ulasannya akan di lanjutan disini

Sabtu, 30 Maret 2013

Connecting Emerson Wireless Transmitter to HMI

A week ago my friend called me and want me to do a test connecting emerson wireless transmitter to wonderware HMI. i agree because from my view wireless is only the media and the protocol is still using the same common known protocol, modbus.

so, the design is like this :
Wireless Gateway Testing Diagram

wireless transmitter will communicate with Gateway using wireless protocol (not pure 802.11 wireless but encapsulated with Hart Protocol). and from wireless gateway i use cat 6 UTP cables to connect with HMI (using common switch/hub)

Then we agree to install all the testing stuff. First we have to find a 24vdc as power source. i'm not ready with that before. although i have 3 different mini PLC, but the power source is already installed in the cabinet so it was difficult to use existing power source.

first, we have to make sure the transmitter can communicate with wireless gateway. we can monitor it using the browser and put wireless gateway's IP for the address. the result is wireless transmitter can communicate with the wireless gateway.

i use wonderware 10.5 and install DASMBTCP for the I/O driver. add 1 Modbus PLC as the RTU and put Wireless Gateway IP Address for the address.
try to get 1 tag from the wireless transmitter and the result is....
fail :)
it must be something wrong with the setting.

first, because DASMBTCP communicate using old modbus protocol which is using port 502, so i have to enable port 502 at the wireless gateway setting. and also submit each tag from the transmitter to register. here we can use register 40001 until 4xxxx.

second, at the DASMBTCP I/O Module, we have to define how many digit for the register. the default number is 6. because i'm using 40001 for the register that holding tag from the transmitter, i have to put 5 for the digit.

and after some modification... voila... the wireless transmitter value can monitored using wonderware HMI. you can set the refresh time to maximize the update rate from the device and make real time monitoring for the operator.